Puisi Untuk Anak / Cucu


Dalam benakku sebuah tangan melambai
Terulur bergetar mengusap kepalaku
Kusambut tangan itu
Dan kucium penuh takzim
Telunjuknya mengarah ke langit biru berawan:

”Lihatlah, layang-layang terbang karena tantangan angin”

Senyumnya meredakan badai di jantungku

”Jalani hidupmu dengan tenang dan sabar,
Carilah kemudahan itu di ujung kesukaran”

Suaranya parau dihisap usia dan deraan angin

“Kau tampak lelah cucuku, tidurlah
Ciptakan mimpi-mimpi indah dalam lelapmu
Wujudkan mimpi itu saat kau jaga”

Kata-kata mengurungku
Bersama harapan yang tertunda
Berkubang dalam selasar dadaku
Tenggelam dalam kebisuan

”Akan kuceritakan padamu cucuku
tentang sebuah negeri bernama Darul Farh:
Kawasan kegembiraan, kampung bahagia
Banyak orang ingin sampai ke tempat itu
Namun banyak yang berputus asa untuk mencapainya
Jalan panjang menuju ke sana penuh onak dan duri
Bersusun tangga kesusahpayahan
Hanya orang yang cepat bangun manakala terjatuhlah
Yang mampu mencapainya”

Tangannya menggamitku

”Mari kuajak kau untuk menemui pemiliknya”,

Saat sunyi,
Saat khusyu,

Bandung, 20 Maret 2009
YANTI SRI BUDHIARTI

Sumber :  http://zaynalmustafa.blogspot.com/2009/05/puisi-dari-yanti-sri-budhiarti-untuk_28.html

Konon pada suatu desa terpencil

Terdapat sebuah keluarga

Terdiri dari sang ayah dan ibu

Serta seorang anak gadis muda dan naif!

Pada suatu hari sang anak bertanya pada sang ibu!

Ibu! Mengapa aku dilahirkan wanita?

Sang ibu menjawab,”Karena ibu lebih kuat dari ayah!”

Sang anak terdiam dan berkata,”Kenapa jadi begitu?”

Sang anak pun bertanya kepada sang ayah!

Ayah! Kenapa ibu lebih kuat dari ayah?

Ayah pun menjawab,”Karena ibumu seorang wanita!!!

Sang anak kembali terdiam.

Dan sang anak pun kembali bertanya!

Ayah! Apakah aku lebih kuat dari ayah?

Dan sang ayah pun kembali menjawab,” Iya, kau adalah yang terkuat!”

Sang anak kembali terdiam dan sesekali mengerut dahinya.

Dan dia pun kembali melontarkan pertanyaan yang lain.

Ayah! Apakah aku lebih kuat dari ibu?

Ayah kembali menjawab,”Iya kaulah yang terhebat dan terkuat!”

“Kenapa ayah, kenapa aku yang terkuat?” Sang anak pun kembali melontarkan pertanyaan.

Sang ayah pun menjawab dengan perlahan dan penuh kelembutan. “Karena engkau adalah buah dari cintanya!

Cinta yang dapat membuat semua manusia tertunduk dan terdiam. Cinta yang dapat membuat semua manusia buta, tuli serta bisu!

Dan kau adalah segalanya buat kami.

Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan kami.

Tawamu adalah tawa kami.

Tangismu adalah air mata kami.

Dan cintamu adalah cinta kami.

Dan sang anak pun kembali bertanya!

Apa itu Cinta, Ayah?

Apa itu cinta, Ibu?

Sang ayah dan ibu pun tersenyum!

Dan mereka pun menjawab,”Kau, kau adalah cinta kami sayang..”

Penulis : Khalil Gibran

Sumber : http://www.anneahira.com/puisi/puisi-anak.htm

Jika anak dibesarkan dengan celaan

Ia belajar memaki

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan

Ia belajar menentang

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan

Ia belajar rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi

Ia belajar jadi penyabar

Jika anak dibesarkan dengan dorongan

Ia belajar percaya diri

Jika anak dibesarkan dengan pujian

Ia belajar menghargai

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan

Ia akan terbiasa berpendirian

Sumber : http://www.anneahira.com/puisi/puisi-anak.htm

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.