Hiks, bunda…dimana bunda?
Aku telah bangun dari tidur, rasanya lelah sekali.
Seharian kita berjalan-jalan bersama ayah,
Begitu indah, tapi
Tiba-tiba genggaman tanganmu terlepas dariku,
Terdengar suara bising,membuatku lupa
Apakah engkau meninggalkanku bunda?
Aku disini bunda
Aku sudah bangun, ternyata aku bermimpi!
Aku terbangun bersama orang-orang yang tak ku kenal,
Mereka lelap sekali bunda.
Bunda, dimana engkau?
Kenapa engkau tidak melihatku disini,
Aku disini bersama mereka,
Aku takut sendirian,
Aku kedinginan,
Aku lapar dan haus,
Aku mencarimu bunda,
Dimana engkau?

Ohhh….
Bunda ternyata engkau mencariku.
Bundaaaaaaa!!
Bunda kenapa diam,
Tak terdengarkan jeritku memanggilmu?
Bunda?
Apa itu bunda? Oh, engkau menangis..
Mengapa engkau menangis?
Baru kali ini melihatmu menangis,
Engkau selalu tertawa bersamaku,
Meski aku nakal,
Meski aku rewel,
Tetap ceria.

Bunda, jarimu gemetar
Aku menggenggam tanganmu,
Hangat bunda,
Tapi mengapa engkau menatap kaku?
Siapakah itu?
Ya Tuhan, bunda menemukanku!

Bunda,
Jangan menangis,
Jangan bersedih,
Lihat! Lihatlah senyumku!
Bunda aku tersenyum, untukmu
Dalam cintamu,
aku ingin menjadi payungmu,
menunggumu disini,
dibatas waktu nanti.

Senyumlah bunda,
Aku kan pergi dengan mereka,
Meski mereka bukan orang tuaku.
Titip rindu untuk ayah.

Penggalan gelombang itu tak memutuskan cinta,
Meski harus berbeda alam.
Bocah-bocah bencana tsunami, Aceh.

Bandung, 17 dzulkaidah 1425
Setia

Sumber : http://siasetia.multiply.com/journal/item/6/puisi-puisi_kehilangan