Tahun lalu kami bertempur di deras sungai Sang-kan
Sekarang pun kami adu senjata di jalan Tsung-ho.
Membasuh baju baja di ombak danau Chiao-chi.
Memberi makan kuda di lereng bersalju Tien-shans.
Perang, perang yang panjang, 10 ribu mil dari rumah,
Tiga angkatan perang kami letih dan berangkat tua.

Tentara barbar membantai manusia bagai bajak;
Di dataran pasir ini tak tampak apa-apa kecuali
putih tengkorak dan tulang-tulang pucat manusia.
Dimana Kaisar Chin membangun tembok menahan Bangsa Tartar,
di sana pembela Kaisar Han membakar tugu api,
tugu api terbakar tak pernah padam.
Seperti tak pernah sudah bagi perang !–

Di medan pertempuran, lelaki bergulat lalu mati;
Kuda-kuda taklukan meratap menangisi surga,
Gagak dan elang mematuki isi perut bangkai manusia,
Membawa terbang, menggantungnya di pohon mati.
Maka, di gurun itu berhamburanlah para lelaki,
dan para jenderal itu, tak ada melakukan apa-apa.

O, perang yang keji! Aku tahu kini, mengapa para
tentara jarang sekali dikerahkan penguasa yang ramah.

Sumber : http://sejuta-puisi.blogspot.com/2004/01/perang-yang-keji.html