Haru biru hatiku menatapmu……… Ketika Cinta sejati mengambilmu dariku…

Bagaikan domba kepembantaian…tanpa suara dan tanpa meronta, ku pasrah tanpa setetes air mata…..

Ketika Berlaksa-laksa hujan batu kepedihan menimpa jiwaku…… ku bungkam gemuruh dan kusingkirkan petir yang menghanguskanku… kubiarkan hanya keteduhan yang terpancar diwajahku……

Ketika waktu berhenti…. dan nafasku tecekal di tenggorokan….. gemeretak gigiku tertahan menahan pedih… pedih yang merenggut harapku…..

Namun…aku tidak akan pernah menyerah…. tidak akan pernah mengaku kalah……

aku masih punya padang rumput yang dihiasi ribuan bunga cinta…. yang setia mekar… meski berjuta kali pangkas bahakan dimakan bara …..

Aku tidak akan menyerah… meski ku tahu…. berjuta kali aku harus menderita…….

Aku tidak akan menyerah…. karena yang kutahu…. cinta tak pernah kalah…… meski maut merenggut nyawa….

Sejenak kuhela nafas….. mencoba merampas setitik nyawa…..

bukan untuk dipadu raga … namun untuk direnggang nyawa…….

Aku …adalah sang aku…. Yang setia mencinta…… meski orang memandang nista…

Meski orang mencemooh dengan tawa… bahkan menyebutku gila…….

Tapi adakah yang salah dengan cinta……

Jika Ia…. siapa yang telah mengoreksinya………

Atau siapa yang telah mendakwa penciptanya….

Hai…. kira berbicara tentang rasa…. yang tiada defenisinya…..

Kita berbicara tentang Cinta ….. yang hanya Punya Kesetiaan pada jiwa… bahkan melepas raga dari nyawa….

Sumber : http://apresiasipuisi.multiply.com/journal/item/2230