Itulah panorama kakek moyangku

Berlabuh biru gelombang

Menghampar hijau ladang

Julang pegunungan

Itulah anak negri kakek moyangku

bermain gotri rame riang

Bulan purnama mandikan sinaran

Menyusur tapak setapak

Mendekap kalam suci

Itulah Nusantara kakek  moyangku

Hingga khatulistiwa kalbu semesta

Gegap gempita Mataram-Majapahit-Sriwijaya

Itulah hutan kakek moyangku

Saat singa rajanya

Mata rantai hukum Tuhan

Burung pipit, pemakan kutu kerbau

Itulah peta negri kakek moyangku

Cerita cinta tanpa dusta, darah dan air mata

Yang bertajuk seribu pulau

Tanah subur, laut eksotik

Emasnya banyak, minyak tambang ruah

Hingga Jepang sudi telanjang,

barter negri

*************************

`

Dan inilah Indonesiaku

Yang pada sepenggal waktu nanti

Cucuku akan bercerita begini;

Itulah panorama kakek moyangku

Mengamuk gelombang hitam

Menghampar mayat, jejali jalan-ladang

Julang puing-puing bangunan

Tak putus cucuku bertanya, “mengapa??”

Dan memang ternyata,

Itulah anak negri kakek moyangku

Ribut rusuh bermain nyawa

Mandi tep-byar lampu diskotik

Menyisap lorong-lorong Aibon

Mendekap Play Boy jiwa raga

Itulah Nusantara kakek moyangku

Hingga khatulistiwa menderita

Gegap gempita penguasa

Laiknya gegap gempita Belanda

Itulah peta negri kakek moyangku

Satu pulau berlepas lagi

Satu pulau digasak lari

Tanahnya retak, lautnya rusak

Emas logam titipan orang

Minyak tambang digali,

dihianati!!

Cerita duka penuh luka,

Banjir darah, hujan air mata

Sekarang…

Tanpa telanjang,

siapa sudi barter negri?!

*************************

Oooo…

Tak tahan aku menyebrang silang

Ku berbisik pada gunduk makam,

“Izinkan aku menggali tanah saja”

Setan tertawa hingga terjengkang

Meraba sel-sel otak,

Awut mawut semprawut jempalitan

Dan di tanah abu,

“Anak bodoh!! Hidup juga perjuangan!!”

Kakekku mengepal tangan

Sumber : http://mufaqqih.multiply.com/journal/item/9/AKU_KAKEK_DAN_CUCUKU_—_PUISI_dari_Negeri_Mesir_untuk_INDONESIA_tercinta