Puisi Untuk Ayah / Ibu


Oh Ibu….Engkau adalah bagian dari hidupku..

Sehingga aku terlahir di dunia ini

Dan merasakan kasih sayangmu

Oh Ibu..Betapa besarnya pengorbanan mu..

IBU…Ketika engkau melahirkan ku menahan rasa sakit yg engkau rasakan

Hanya demi anakmu..

Oh Ibu…Kasih sayangmu

Bagaikan menyinari bumi

Tanpamu aku tidak akan hidup di dunia ini

Dan merasakan Kasih Sayangmu…

Dari aku kecil sampai aku besar

Kasih sayangmu tidak akan pernah luput

Pengorbanan dan Kasih sayangmu

Kau berikan dengan setulus hati..

Sumber : http://rantiyulianti.tripod.com/id1.html

Indahnya Sinar Matahari Di Pagi Hari
Membuat Ku Trus Bersemangat Dalam Hidup
Indahnya Tatapan Pancaran Mata Mu
Membuat Ku Trus Mencintai Dan Menyayangi Mu

Dingin nya Malam, Menusuk Raga Ini
Kehangatan Secangkir Kopi, Menemani Dingin Malam Ini
Dingin nya Malam, Membuat Ku Teringat Dirimu
Kehangatan Pelukan Mu, Menenangkan Jiwa Dan Raga Ku

Matahari Terbit di Pagi Hari, Menerangi Hinga Sore Hari
Bulan Terbit Di Senja Hari, Menerangi Hinga Pagi Tiba
Tapi Kasih, Cinta Dan Sayang Ku Pada Mu
Selalu Meneragi Hidup Ku Di setiap Waktu dan Hari-hari Ku

Ketulusan Hati ini Hanya Untuk Mu
Sayang dan Cinta Ini Sepenuhnya Untuk Mu
Senyum Dan Tawa ini Kupersembahkan Untuk Mu
Tangis Dan Luka Ini Akan Terobati Bila ada Kau di Sisi Ku
(Created By “Dr Stein Error Man”)

Penulis : RANTI YULIANTI
Sumber : http://rantiyulianti.tripod.com/id1.html

kadang hari jadi demikian melelahkan, ibunda, ruang menujumu tiba-tiba saja terasa luas dan jauh
ingin aku ceritakan tentang sayap-sayap yang tak henti belajar terbang
mencari setiap celah untuk memperpendek jarak mempersempit ruang
ingin aku ceritakan tentang wangi kelopak sepanjang jalan, biru langit, hembus angin dan warna pucuk-pucuk hijau
mengumpulkan keindahan dalam telapak untuk dibawa pulang ke pangkuan
berharap bisa menghapus letih kening dan sudut mata bunda

sesungguhnya tak jarang langkah aku tersandung batu terhalang badai
tapi bekal yang bunda sampirkan sejak dulu selalu bisa menghantarkan ku ke seberang

kadang kabut sama sekali nyaris tak tertembus, ibunda, perjuangan melewatinya tiba-tiba saja kehilangan tenaga
ingin aku ceritakan tentang ketakutan-ketakutan dan mimpi buruk menjelang tengah malam
tentang kegamangan dan keraguan setiap kali jembatan dan pintu menghadang di depan mata
tapi percayalah bekal yang bunda titipkan di bahu selalu bisa mengisi kekosongan, menguatkan dan menegakkan kembali wajahku

seperti pesan bunda,
belajarlah dari rumput yang tegar untuk selalu tumbuh
belajarlah dari tetes hujan di atas batu yang tawakal berikhtiar

tak pernah mudah, ibunda, tak pernah
jika sesekali aku berhenti
aku ingin bunda tahu bukan tuk menyerah
tapi menerjemah hikmah dan menelaah diri sebelum berjalan lagi

tak pernah mudah, ibunda, memang tak pernah
tapi aku tak gentar
sebab cinta dan doa bunda terbukti jadi energi tak berbatas yang tak pernah kehabisan cahaya dalam setiap langkahku…

Terima kasih,Bunda…
Mungkin hanya sebait kata ini yang sanggup ku beri saat ini.
Tak sebanding semua perngobanan Bunda untukku…

Selamat Ulang tahun, Bunda…

Sumber : http://forum.netjutawan.com/showthread.php?t=49769

Tiga hari
Tiga malam
Saya duduk di depan ayahku,
Dia terlelap tidur.

Hiraukan suara orang-orang
Memberi dan menawarkan padaku
Segelas air dan makanan,
Agar aku beranjak dari hadapan ayahku.

Ayah bangun!!
Kita makan bersama,
Liatlah sajian itu untuk kita,
Ayah bangun, aku sudah lapar.

Ayahku belum bangun juga,
Aku berharap ayah bangun,
Temani aku,
Satu inginku
Bangunlah yah!

Usiaku 5 tahun begitu ayahku bilang,
Dan saat itulah badai tsunami datang.

Bandung, 21 Dzulkaidah 1425
Setia

Sumber : http://siasetia.multiply.com/journal/item/6

Hiks, bunda…dimana bunda?
Aku telah bangun dari tidur, rasanya lelah sekali.
Seharian kita berjalan-jalan bersama ayah,
Begitu indah, tapi
Tiba-tiba genggaman tanganmu terlepas dariku,
Terdengar suara bising,membuatku lupa
Apakah engkau meninggalkanku bunda?
Aku disini bunda
Aku sudah bangun, ternyata aku bermimpi!
Aku terbangun bersama orang-orang yang tak ku kenal,
Mereka lelap sekali bunda.
Bunda, dimana engkau?
Kenapa engkau tidak melihatku disini,
Aku disini bersama mereka,
Aku takut sendirian,
Aku kedinginan,
Aku lapar dan haus,
Aku mencarimu bunda,
Dimana engkau?

Ohhh….
Bunda ternyata engkau mencariku.
Bundaaaaaaa!!
Bunda kenapa diam,
Tak terdengarkan jeritku memanggilmu?
Bunda?
Apa itu bunda? Oh, engkau menangis..
Mengapa engkau menangis?
Baru kali ini melihatmu menangis,
Engkau selalu tertawa bersamaku,
Meski aku nakal,
Meski aku rewel,
Tetap ceria.

Bunda, jarimu gemetar
Aku menggenggam tanganmu,
Hangat bunda,
Tapi mengapa engkau menatap kaku?
Siapakah itu?
Ya Tuhan, bunda menemukanku!

Bunda,
Jangan menangis,
Jangan bersedih,
Lihat! Lihatlah senyumku!
Bunda aku tersenyum, untukmu
Dalam cintamu,
aku ingin menjadi payungmu,
menunggumu disini,
dibatas waktu nanti.

Senyumlah bunda,
Aku kan pergi dengan mereka,
Meski mereka bukan orang tuaku.
Titip rindu untuk ayah.

Penggalan gelombang itu tak memutuskan cinta,
Meski harus berbeda alam.
Bocah-bocah bencana tsunami, Aceh.

Bandung, 17 dzulkaidah 1425
Setia

Sumber : http://siasetia.multiply.com/journal/item/6/puisi-puisi_kehilangan

Sepantun rindu
Akan kutuliskan untukmu ibu
Karena sekuntum kasihmu
Terus bermekaran di hatiku
Walau aku tahu kau
Telah tenang di alam
barumu
Tuk selamanya.

Dan sepantun tawaku
Akan kulayangkan
untukmu
Lewat dewa-dewi malam
Yang selalu menemaniku
Kala kumenyelam
Dalam lautan kelam
Kelam hatiku yang terdalam

Penulis : Zulkarnain, siswa Kelas XII IPA 1 MAN Selatpanjang, Anggota Cahaya Pena, Selatpanjang

Sumber : http://xpresiriau.com/puisi/yang-terhormat-ibuku/

Kapan kapal itu akan menjemputku
Dari arah timur tak kulihat bendera negri seberang
Aku kembali duduk menoleh anak ikan yang sedang berlarian
Perlahan menipis lapisan kulit coklatku
Panas matahari mengujiku
“Kapal itu tak datang lagi, nak..”
Terngiang suara ibu di telingaku..
Kupikir hanya buah lamunanku
Aku duduk di atas karang tak bertuan hari ini
Mencoba mendalami kata-kata ibu
Walau raganya tak kembali memangkuku di sini

Aku yakin kapal itu akan datang

Penulis : Febi Indria N, Mahasiswi Jurusan Sistem Informasi

Fakultas Sains dan Teknologi UIN SUSKA

Sumber : http://xpresiriau.com/puisi/kapal-ibu-puisi-hari-ibu/

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.