Puisi Kematian


Aku terbangun dalam doa dalam sujud -sujud yang panjang
bergetar hati tuk panjatkan doa
gemuruh rupa, terduduk dalam sepi di keheningan hari yang menyapa subuh
tengadah tangan tuk berdoa menyambut kematian di pagi subuh

terisak meyambut doa tuk katakan maaf dan ampunkan dia walau detik telah menunggu
hitungan waktu terus berputar menemani waktu yang kian sempit
setelah berdoa tertidur dalam hitungan waktu yang terus berputar
meminta diakhiri agar mudah menjemput ajal

terbangun menjelang subuh ditanya namaku
oh aku tidak pergi wahai sang orang yang kucinta
kulihat mata itu menatap atas melihat malaikat maut
ku ucap di telinganya kata Syahadat tuk menghadap ilahi

meyebut Allah sebelum ajal mejemput bahagia diri
lalu katakan inalillahi wainnailahi rojiun
dan wafat di pangkuanku ketika Subuh itu menyambutnya
dengan tenang

Sumber : http://kawanlama95.wordpress.com/2009/10/08/puisi-kematian/

Semalam untuk pertama kalinya kami bertengkar
dan ia melontarkan kata-kata menyakitkan.
Aku tahu ia menyesali perbuatannya
karena hari ini ia mengirim aku bunga.

Aku mendapat bunga hari ini.
Ini bukan ulang tahun perkawinan kami
atau hari istimewa kami.
Semalam ia menghempaskan aku ke dinding
dan mulai mencekikku
Aku bangun dengan memar dan rasa sakit sekujur tubuhku.
Aku tahu ia menyesali perbuatannya
karena ia mengirim bunga padaku hari ini.

Aku mendapat bunga hari ini,
padahal hari ini bukanlah hari Ibu atau hari istimewa lain.
Semalam ia memukuli aku lagi, lebih keras dibanding
waktu-waktu yang lalu.
Aku takut padanya tetapi aku takut meningggalkannya.
Aku tidak punya uang.
Lalu
bagaimana aku bisa menghidupi anak-anakku?
Namun, aku tahu ia menyesali perbuatannya semalam,
karena hari ini ia kembali mengirimi aku bunga.

Ada bunga untukku hari ini.
Hari ini adalah hari istimewa : inilah hari pemakamanku.
Ia menganiayaku sampai mati tadi malam.
Kalau saja aku punya cukup keberanian
dan kekuatan untuk meninggalkannya,
aku tidak akan mendapat bunga lagi hari ini…

Sumber : http://speedway.wordpress.com/tag/puisi-bunga/

Setiap manusia pasti mati,tak akan ada yang bisa lari darinya,,, tapi lihatlah betapa kita lalai tuk mengingatnya seakan kita akan hidup untuk selamanya,,

Lihatlah wahai manusia,,, jauhkah langkah mu, seakan tak akan ada yang dapat menghentikannya,,,?? jauhkah langkahmu,,, seakan tak akan memutih rambutmu dimakan usia??? Seandainya kematian adalah akhir dari segalanya,itu akan menjadi sangatlah mudah,,, tetapi , kematian bukanlah akhir, melainkan awal dari segalanya,,, kematian adalah pintu dimana kita akan memasuki hidup yang sebenarnya,,, hidup yang tak akan pernah ada habisnya

Banyak hartamu dahulu tak akan berguna, kuat gagah mu dahulu tak akan berguna, cantik paras mu dahulu tak akan berguna, seribu orang rebah disamping mu menopangnya tak akan berguna,,, ketika betismu saling bertautan,,, ketika nyawamu sudah sampai di kerongkongan,,, ketika tali pocong mu sudah terikat “kencang”, semua tak akan berguna,,,

Adakah kau masih lalai mengingatnya,,, adakah kau siapkan bekal untuk jalan yang tiada akhirnya,,, sesungguhnya hanya Alloh lah tempat kembali kita,,, kuatkan lah kakimu untuk mencari ridho-Nya,,, kuatkan lah tangan mu untuk selalu bermunajat pada-Nya,,, sehingga keyakinan itu akan datang,,, dan mulutmu mampu berkata,,, “sesungguhnya, aku hidup untuk yang menghidupkan ku, dan aku mati untuk yang mematikanku,,,”

Sumber : http://muhammadzaki.wordpress.com/2009/02/08/puisi-kematian/

Perlahan, tubuhku ditutup tanah,
perlahan, semua pergi meninggalkanku,
masih terjelas langkah-langkah terakhir mereka
aku sendirian, di tempat gelap yang tak pernah terbayang
sendiri menunggu keputusan

Menyesal sudah tak mungkin,
tobat tak lagi dianggap,
dan maafpun tak bakal didengar,
aku benar-benar harus sendiri

Tuhanku,
Jika kau beri akau satu lagi kesempatan,
Jika kau pinjamkan lagi beberapa hari milik-Mu
beberapa hari saja…
aku harus berkeliling memohon maaf pada mereka
yang selama ini telah merasakan zalimku,
yang selama ini sengsara karena aku,
yang tertindas dalam kuasaku,
yang selama ini telah kusakiti hatinya,
yang selama ini telah aku bohongi

begitu sesal diri ini
karena hari-hari telah berlalu tanpa makna
penuh kesia-siaan

Aku dimakamkan hari ini
dan semua menjadi tak termaafkan,
dan semua menjadi tak terlambat,
dan aku harus sendiri,
untuk waktu yang tak terbayangkan

Sumber : http://haroqi.multiply.com/journal/item/3/Puisi_Kematian

Saat aku berjalan dalam malam yang temaram
Saat itu pula hatiku kembali tergetarkan
Bergetar dan terasa diusik oleh pengusik
Seperti hantu yang siap membunuhku

Seperti gempa bumi yang dahsyat menggetarkan hatiku
Meretakkan, menghancurkan dan meluluhlantakkan keutuhan pikiran
Melemahkan otot-otot dan semua persendianku
Dan seperti tulang yang menghilang dari tubuhku

Pemandangan itu sangat mengerikan
Berjuta-juta wanita putih bersayap memanggil namaku
Seperti malaikat yang siap mencabut nyawa dari ragaku
Dan pergi meninggalkan tubuh menjadi gentayangan

Kini matahari telah muncul di peraduannya
Dan ajal menantiku datang ke tempatnya
Memberikan nuansa yang seolah-olah berkata
tentukan sebuah pilihan
Dan menentukan jalan kehidupan
Yang baru untuk melupakan masa lalu.

Sumber : http://xpresiriau.com/puisi/kematian-sebuah-puisi/

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.